Pengertian Hukum Taklifi Dan Klasifikasinya

15601 views

Islam tentunya memiliki hukum yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan As-sunnah. Keran hukum merupakan landasan bagi aktifitas di setiap kehidupan manusia. Hal itu disebabkan karena setiap mukallaf memiliki kewajiban dalam menjalankan syariat agama yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Namun setiap orang dewasa atau mukallaf memiliki pilihan untuk menjalankan atau meninggalkan. Hukum dalam agama Islam didefinisikan sebagai kalam Allah yang menyangkut perbuatan orang dewasa dan berakal sehat, baik bersifat imperative, fakultatif, atau menempatkan sesuatu sebagai sebab, syarat, dan penghalang. Selanjutnya hukum menurut agama Islam terbagi menjadi dua yaitu hukum taklifi dan juga hukum wadh’i. Pada kesempatan ini akan di bahas lebih lanjut pengertian hukum taklifi dan klasifikasinya.

pengertian hukum taklifi

Definisi Hukum Taklifi dan Klasifikasinya

Hukum taklifi merupakan hukum yang menuntut umat muslim yang mukallaf untuk berbuat, menuntut untuk tidak berbuat atau menghendaki agar mukallaf memilih antara berbuat atau tidak. Di sisi lain hukum taklifi merupakan hukum pemberian beban. Sedangkan menurut istilah, hukum taklifi ini adalah ketentuan Allah SWT yang menuntut mukallaf (orang yang telah baligh dan berakal sehat) untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan. Hukum Taklifi juga didefinisikan oleh Ahlu Ushul Fiqh yaitu berupa ketentuan Allah yang berhubungan secara langsung dengan perbuatan orang mukallaf baik berupa perintah, anjuran untuk melakukan, larangan, anjuran untuk tidak melakukan, atau dalam bentuk memberi kebebasan memilih untuk berbuat atau tidak berbuat.

Contoh dari hukum taklifi sendiri misalnya dalam QS. At Taubah ayat 103 yang menyatakan umat muslim harus menunaikan zakat dari harta yang mereka peroleh. Menunaikan zakat di atas merupakan perbuatan yang harus di lakukan oleh mukallaf. Dengan kata lain zakat merupakan perbuatan yang wajib dilakukan oleh orang mukallaf. Setelah memahami tentang pengertian hukum taklifi di atas, selanjutnya terdapat Klasifikasi Hukum Taklifi yang terbagi menjadi 5 bagian, antara lain Wajib, Sunnah, Haram, Makruh, dan Mubah.

Klasifikasi hukum taklifi yang pertama adalah wajib. Menurut pengertiannya, Ijab (mewajibkan) adalah ayat/hadits dalam bentuk perintah yang mengharuskan untuk melakukan suatu perbuatan. Contohnya adalah ayat atau hadits yang mewajibkan seorang umat muslim menjalankan sholat. Jika perbuatan ini dikerjakan akan mendapat pahala, namun bila ditinggalkan akan mendapat dosa. Selanjutnya adalah sunnah, yaitu tuntutan untuk melaksanakan suatu perbuatan yang bersifat tidak memaksa atau tidak wajib. Dengan kata lain seseorang tidak akan berdosa bila meninggalkannya. Namun bila mengerjakannya akan mendapatkan pahala. Contoh dari sunnah ini adalah berpuasa senin kamis, menjalankan sholat sunnah. Sedangkan haram merupakan perkara yang dituntut oleh syara’ untuk tidak mengerjakannya secara keras. Jika seorang mukallaf tetap mengerjakannya tentunya akan mendapatkan dosa, bila meninggalkan akan mendapat pahala, contohnya adalah perbuatan zina atau mencuri.

Klasifikasi hukum taklifi selanjutnya adalah Makruh, yang berarti perkara yang dituntut syara’ untuk meninggalkan namun tidak begitu keras. Dengan kata lain seorang mukallaf akan mendapat pahala jika meninggalkannya, namun jika mengerjakannya tetap tidak mendapatkan dosa, sama halnya seperti permasalahan dalam QS. Al Maidah 101. Selanjutnya Mubah yaitu perkara yang yang dibebaskan syara’ untuk memilih atau meninggalkannya, contohnya adalah mukallaf yang ingin melaksanakan haji. Itulah penjelasan mengenai pengertian hukum taklifi dan juga klasifikasi hukum taklifi, semoga menambah perbendaharaan ilmu hukum islam bagi Anda.