Hak Tawan Karang bagi Masyarakat Bali

4972 views

Hak tawan karang ialah hak istimewa yang dimiliki raja-raja Bali di masa lalu yang berhak menyita atau mengambil seluruh muatan dari kapal-kapal asing yang terdampar di seluruh pesisir pantai Bali. Hukum tawan karang ini diperbolehkan jika ada kapal termasuk dengan muatan dan penumpangnya yang terampar di karang-karang muka laut atau di pesisir seluruh pantai Bali, hanya masyarakat setempat yang dapat menyelamatkan mereka semua. Ketika masyarakat berhasil menyelamatkan muatan atau penumpangnya, maka itu semua telah menjadi milik masyarakat Bali termasuk raja-raja Bali. Seluruh penumpang atau muatannya yang telah diselamatkan dapat menjadi milik masyarakat, dan penumpang kapal tersebut dapat dijadikan budak atau bisa dibunuh.

hak tawan karang

Ada dua prasasti yang menyebutkan mengenai hukum tawan karang yang saat itu berlaku:

  1. Prasasti Sembiran (923 Masehi) yang menyebutkan bahwa jika peristiwa tawan karang (kapal, perahu, jukung, talaka) yang diketahui oleh penduduk desa maka kapal tersebut beserta isinya dipersembahkan untuk Bhatara Punta Hyang.
  2. Prasasti Babetin (896 Masehi) yang menyebutkan hak tawan karang yaitu bahwa “jika ada pedagang yang berlabuh di sana dan pedagang itu telah meninggal, maka harta kekayaan pedagang itu harus dibagi dua. Dan jika perahunya rusak, serpihannya dijadikan pagar benteng”.

Dengan munculnya hukum tawan karang ini, Belanda mengaggap hal tersebut mengancam keselamatan harta bendanya dan awak kapalnya. Pada tahun 1839, Belanda membuat perjanjian dengan semua raja di Pulau Bali untuk menghapus hukum tawan karang dan Belanda mengganti dengan sejumlah uang untuk tiap kapal yang terdampar. Namun sayangnya Belanda tak pernah menepati janji. Sehingga tahun 1844, raja Buleleng menyita kapal Belanda yang terdampar di Pantai Buleleng. Hal tersebut menuai kecaman Belanda untuk meminta dikemBalikan kapal beserta isinya, namun raja Buleleng tidak menanggapinya. Akhirnya Belanda membawa pasukannya untuk menyerang Bali dan terjadi perang Puputan yaitu perlawanan sampai mati oleh seluruh keluarga kerajaan beserta para pengikutnya. Sejak raja Bali di taklukan, maka Belanda yang memiliki hak tawan karang.